Harga Bahan Pokok Naik, Ekonomi RI Melemah Sudah Terbaca Lama Tapi Dibiarkan

Kamis, 10 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

pasar sepi harga Bahan Pokok Naik

pasar sepi harga Bahan Pokok Naik

POJOKberita.ID|Kelesuan ekonomi Indonesia di awal Tahun 2025 bukan kejutan, setidaknya bagi mereka yang selama ini membaca data, bukan sekadar retorika. Tanda-tandanya sudah muncul sejak lama, tapi sayangnya, sebagian besar pemangku kebijakan lebih memilih mengabaikannya.

Itu yang ditegaskan oleh Arief Anshory Yusuf, anggota Dewan Ekonomi Nasional sekaligus Guru Besar Ekonomi dari Universitas Padjadjaran. Dalam pernyataannya, ia mengungkap bahwa perlambatan ekonomi Indonesia adalah bencana yang datang perlahan, namun terlihat jelas, dan tetap tak dicegah.

“Kelesuan ekonomi ini sebenarnya sudah terbaca sejak lama. Tapi banyak yang tidak percaya, padahal kami haqqul yakin itu terjadi,” ujar Arief, Kamis (10/7).

Fakta Tak Terbantahkan: Daya Beli Menurun, Rakyat Bertahan Hidup

Arief menunjukkan dua indikator utama yang seharusnya jadi alarm keras bagi pemerintah:

  • Kenaikan proporsi belanja bahan pokok masyarakat di rekening perbankan.

Berdasarkan Hukum Engel, semakin tinggi porsi pengeluaran untuk kebutuhan dasar, maka semakin miskin kondisi rumah tangga tersebut. Fenomena ini menyiratkan lonjakan populasi dengan pendapatan pas-pasan yang tak mampu menyisihkan dana untuk pendidikan, kesehatan, atau tabungan.

  • Stagnasi upah riil sejak 2016.

Walau upah nominal naik hampir dua kali lipat, dari Rp1,5 juta ke Rp3 juta, namun upah riil masyarakat Indonesia nyaris tak bergerak karena terus dimakan inflasi. Daya beli stagnan, tekanan ekonomi meningkat.

Saat pertumbuhan ekonomi nasional akhirnya turun ke 4,87% di kuartal I-2025, turun dari 5,11% pada kuartal yang sama tahun sebelumnya, pemerintah baru menggelontorkan paket stimulus ekonomi sebesar Rp33 triliun. Lalu disusul lagi dengan tambahan Rp24,4 triliun pada kuartal II.

Namun, semua itu datang setelah sektor konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah kompak melambat. Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,89%, sementara konsumsi pemerintah justru menyusut minus 1,38%, ironisnya, ini terjadi di saat masyarakat justru paling membutuhkan intervensi.

“Konsumsinya lesu, pemerintahnya terlambat. Dalam makroekonomi ini prosiklikal: justru memperparah pelemahan,” ungkap Arief.

Satu hal yang selalu berulang: setelah Pemilu, belanja pemerintah nyaris vakum. Masa konsolidasi kekuasaan selalu diiringi dengan kelesuan fiskal, padahal transisi politik justru harusnya diisi dengan ekspansi untuk menjaga daya beli rakyat.

 

Dilansir dari Media Zona Akurat

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Hadir di PENAS,Bupati Boltara Dukung Arahan Pangan Presiden Prabowo
Bupati Sirajudin: Sinergi Kunci Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak
Hadiri PENAS XVII, Bupati Boltara Siap Perkuat Sektor Pertanian
Respon Kilat Tim URC, Polres Boltara Amankan Pemicu Keributan
Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Pemkab dan Polres Boltara Gelar Olahraga Bersama
Buka Turnamen U12, Bupati Boltara Dorong Regenerasi Atlet
Raih WTP, Pemkab Boltara Serahkan Ranperda APBD 2025
Sinergi Pemkab dan BAZNAS: Bantu Warga Desa Ollot Miliki Rumah Layak

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 16:44

Hadir di PENAS,Bupati Boltara Dukung Arahan Pangan Presiden Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 - 15:08

Bupati Sirajudin: Sinergi Kunci Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:11

Hadiri PENAS XVII, Bupati Boltara Siap Perkuat Sektor Pertanian

Sabtu, 20 Juni 2026 - 12:44

Respon Kilat Tim URC, Polres Boltara Amankan Pemicu Keributan

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:03

Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Pemkab dan Polres Boltara Gelar Olahraga Bersama

Berita Terbaru

Uncategorized

Hadiri PENAS XVII, Bupati Boltara Siap Perkuat Sektor Pertanian

Sabtu, 20 Jun 2026 - 16:11

Uncategorized

Respon Kilat Tim URC, Polres Boltara Amankan Pemicu Keributan

Sabtu, 20 Jun 2026 - 12:44